Hujan Turun dari Bawah: Puisi yang Hidup nan Berwarna



Hujan turun dari bawah ... hujan jenis apa yang turun dari bawah? Itulah hal yang pertama kali aku pikirkan ketika mulai membaca buku puisi ini. Lantas pikiranku semakin liar. Apakah maksud dari judul ini? Misalkan hujan itu turun dari bawah, berarti masih ada tempat yang lebih bawah lagi dari tempat hujan itu turun. Atau mungkin, hujan itu turun karena berasal dari bawah. Ya mungkin maksudnya, dari air yang berada di bumi, kemudian menguap menjadi awan, dan akhirnya turunlah hujan, oleh karena itu disebut hujan turun dari bawah, apakah benar demikian? Begitu banyak interpretasi yang hadir hanya untuk judulnya saja.

Menurutku, Hujan Turun dari Bawah adalah puisi yang sangat berwarna. Mengapa demikian? Karena puisi itu hidup jika memiliki interpretasi yang beragam, begitu kata Pak Sapardi Djoko Damono – kalimat tersebut disampaikan Pak Sapardi pada acara Asean Literary Festival 2016. Aku sependapat dengan Pak Sapardi, jika puisi itu hanya memiliki satu makna, maka dapat dikatakan puisi itu tak hidup. Dalam artian lain, ketika pembaca selesai membaca puisi tersebut dan dapat menemukan maknanya, ya sudah tak ada perkara lain, puisi itu hanya sebatas itu saja.

Puisi Hujan Turun dari Bawah adalah puisi yang benar-benar hidup. Puisi panjang yang tertulis dalam satu buku ini dibuat oleh Bang Benny Arnas. Puisi ini ditulis pada 70 halaman dengan 25 jeda (jeda yang aku maksud, dapat juga dikatakan sebagai bab). Hujan Turun dari Bawah diterbitkan pada Juli 2018, oleh Penerbit Grasindo. Buku ini memiliki sejuta makna di dalamnya, baik dari isi, bulan dan tahun terbit, jumlah halaman, jumlah jeda, lama pengerjaan, bahkan hingga ke gambar sampulnya. Mungkin, Bang Ben sudah benar-benar merancangnya sedemikian rupa. Bagaimana tidak ... puisi ini dibuatnya dari tahun 2008 hingga 2015. Tujuh tahun puisi ini dibuat. Selama proses tersebut, aku pikir cukup bagi Bang Ben untuk memikirkan detail-detail terkecil untuk buku ini.

Pertama kali menerima buku ini (lagi-lagi diberikan free oleh Bang Ben), batinku mulai bermunculan seribu pertanyaan. Pertanyaan pertama, buku ini kumpulan puisi, Bang? Ternyata bukan. Hujan Turun dari Bawah bukanlah buku kumpulan puisi, namun buku puisi. Ya, hanya satu puisi panjang yang berjudul Hujan Turun dari Bawah. Kemudian, imajinasiku langsung melesat ketika melihat sampul depannya. Gambar latar belakang sampul depan berwarna putih, kemudian ada gambar troli, namun hanya setengah. Troli tersebut berisikan berbagai macam rupa benda. Lantas apa hubungannya dengan hujan?

Baiklah, aku mau mencoba menafsirkan gambar sampul pada buku ini (semoga benar #hehe). Hujan adalah rezeki, anugerah, nikmat, karunia, dari sang pencipta. Troli adalah wadah untuk rezeki, anugerah, nikmat, dan karunia yang diberikan tersebut. Nah, isi dari troli tersebut adalah rezeki, anugerah, nikmat, dan karunia. Namun, kata hujan tersebut diilustrasikan dengan berbagai macam rupa benda, ada buah, minuman, kotak, kaleng, bahkan sepertinya ada makhluk bersayap (entah itu peri atau malaikat).

Seperti yang aku utarakan di atas, puisi karya Bang Ben ini penuh warna dan benar-benar hidup. Saking berwarnanya, membaca buku ini bagaikan bermain puzzle, namun setelah terpasang semua malah semakin bingung – itulah yang dikatakan bahwa puisi ini benar-benar hidup. Buku yang berat. Majas berserakan. Padu-padan diksi yang kadang bertabrakan. Tak elak, imajinasi pun ber-urakan.

Menurutku, buku puisi ini sulit untuk disantap dalam sekali duduk jika kamu benar-benar membacanya (bukan membaca kilat sepintas lalu). Begitupun dengan yang aku alami, aku memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan buku puisi ini.

Jika berbicara tentang isi atau kandungan dari buku ini, mungkin bukan porsiku, karena seperti yang telah aku jelaskan di atas (puisi ini benar-benar hidup). Namun, aku akan sedikit memaparkan hasil imajinasi dan interpretasiku setelah membaca buku ini.

Menurutku, buku ini berkisah tentang keadaan menjelang Nabi Muhammad lahir. Beberapa diskripsi keadaan dan tempat seolah-olah menggambarkan zaman tersebut. Zaman jahiliyah. Masih banyak orang yang menyembah berhala. Terkaan-ku ini semakin kuat setalah membaca bab terakhir:

Di barat Asia, pada 570 Masehi, langit kembar lima – berkepala ular naga, bertubuh gajah, berkaki pincang serupa kangguru, bermata merah dari daging semangka – merentang kesaksian sumir tentang seonggok bayi bayi menggeliat, mengoek, menembus lorong damai kedap suara lagi alpa prasangka dan maklumat palsu gulungan daun kurma.

Gurun belum menghijau, para pendusta takut menjadi imam, dan laki-laki tak berhasrat mencintai dirinya sendiri.

Hujan turun dari bawah.

  • Di barat Asia : Kota Mekkah, tempat lahirnya Nabi Muhammad berada di bagian barat Asia.
  •  570 Masehi : Tahun kelahiran Nabi Muhammad.
  • Langit kembar lima : Terdapat lima orang wanita hebat saat Nabi Muhammad lahir. Saat proses persalinan tiba, Allah mengutus empat wanita utama untuk menemani Aminah selama proses melahirkan. Mereka adalah Hawa istri Nabi Adam, Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa.
  • Bertubuh gajah : Tahun kelahiran Nabi Muhammad.
  • Gurun belum menghijau, para pendusta takut menjadi imam, dan laki-laki tak berhasrat mencintai dirinya sendiri : Keadaan sebelum Nabi Muhammad lahir.
  • Hujan turun dari bawah : Mengisaratkan bahwa Nabi Muhammad adalah hujan (sebagai rezeki, anugerah, nikmat, dan karunia). ‘Turun dari bawah’ dimaksudkan bahwa Nabi Muhammad pun juga terlahir dari manusia biasa.
Enam poin di atas adalah bentuk interpretasiku terhadap puisi ini. Namun, bisa jadi setiap orang mempunyai interpretasi yang berbeda-beda, mengingat kembali puisi ini benar-benar hidup.

Buku puisi ini benar-benar bergizi tinggi bagi kamu yang menyukai dunia sastra. Imajinasi akan semakin terasah. Perbendaharaan kata-kata akan semakin bertambah. Dan pastinya pengetahuan akan semakin melimpah-ruah.

Akhirul-kata, terima kasih Bang Ben atas buku puisi yang luar biasa ini. Buku spesial yang aku anggap bertajuk tujuh ‘7’.


Comments

Popular

Bukit Sulap dan Hikayat Putri yang Hilang

AKU (TAK) MEMILIH

Asiknya Mandi di Air Terjun Sando, Lubuklinggau, Sumatera Selatan