BERTANYA DENGAN TANDA TANYA (?) (Lingkaran KOPDAR #2)


“Apa pentingnya bertanya menurutmu?”

“Wah sangat penting! Dari pertanyaan tersebut kita dapat mengukur bagaimana kualitas seseorang tersebut. Kau pernah mendengar ungkapan dari Pierre Marc Gaston, seorang politikus Perancis,`kan? Katanya, It is easier to judge the mind of a man by his question rather than his answer.

“Ya, aku pernah mendengarnya. Pada dasarnya menilai adalah suatu hal yang membutuhkan proses. Menilai seseorang dari ‘pertanyaannya’ atau dari ‘jawabannya’ adalah bukan hal yang sepele. Kita tidak bisa langsung serta-merta menuduh orang tersebut dari pertanyaannya atau jawabannya. Kita perlu menelaah, melihat mimik mukanya, dan latar belakangnya saat melontarkan kalimat tersebut. Setidaknya kita perlu sedikit belajar sikologi, mungkin?!”

“Ya, betul sih ... namun tetap saja kita dapat menilainya dari sana, `kan? Emh ... perihal susah atau gampangnya menilai dari pertanyaan atau jawaban, lantas seberapa pentingnya kedua hal tersebut, sepertinya bisa sedikit kita tapikkan. Kita coba kerucutkan kembali sesuai pertanyaan awalku, apa pentingnya bertanya menurutmu?”

“Ya, sangat penting. Kita ambil contoh dalam dunia pendidikan, ketika seorang guru sedang menjelaskan, terkadang murid tersebut ada yang menyimak dan tidak menyimak. Bagi murid yang menyimak pun terdapat beberapa kategori murid yang dapat kita klasifikasikan, ada murid yang bertanya karena benar-benar tidak mengerti, ada murid yang ingin tahu lebih dalam lagi, ada murid yang mencoba mengukur kemampuan sang guru, ada juga murid yang seolah-olah ingin pamer pengetahuan, dan ada juga murid yang sekedar basa-basi.”


“Lantas bagaimana dengan yang tidak menyimak?”

“Santai ... jangan buru-buru. Biarkan aku menyelesaikannya terlebih dahulu, ok?”

“Ok, baiklah ... silakan lanjutkan.”

“Nah bagi yang tidak menyimak, pasti kau sudah tahu jawabannya. Kemungkinan terbesar, mereka tak akan bertanya. Ya, bagaimana bisa dia mau bertanya? Sedangkan materi yang dijelaskan pun tak ia ketahui.”

“Jadi, maksudmu, jika seorang murid tersebut tidak bertanya berarti dia tidak tahu tentang materi yang dijelaskan?!”

“Bukan begitu. Ketika mereka tidak bertanya atau tidak merespon materi tersebut, terkadang malah membuat sang guru bingung. Apakah mereka sudah mengerti dengan materi yang dijelaskan guru tersebut, atau tidak? Toh mereka hanya diam. Mereka yang diam, tak bertanya, dan tak menanggapi pun dapat kita kelompokkan juga. Pertama, mereka yang diam karena tidak mengerti. Kedua, mereka yang diam karena rasa ingin tahunya kurang, bisa jadi karena tidak tertarik dengan hal tersebut, atau bisa juga karena mereka sudah merasa cukup dengan hal yang diberikan. Nah, mereka yang berada pada posisi kedua lah yang menurutku perlu dikhawatirkan.”

“Loh, kok bisa? Mengapa demikian?”

“Nah ... di sinilah letak salah satu peranan penting bertanya. Dengan menapikkan latar belakang, mengapa ia bertanya? Namun, setidaknya ketika mereka bertanya, berarti ada kemungkinan dia menyimak. Usaha dan kemauan mereka bertanya inilah yang patut diapresiasi. Mereka yang bertanya adalah mereka yang ingin berkembang, mereka yang ingin tahu lebih dalam lagi.”

“Ya, betul juga sih ... bertanya bisa menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran. Anyway, aku ada kepikiran tentang suatu hal, jika misalkan dalam suatu kelas diterapkan sistem ‘wajib bertanya’ dan pertanyaannya bebas. Oh ... alangkah supernya menjadi seorang guru. Bisa dikatakan, guru tersebut wajib tahu banyak hal agar bisa menjawab pertanyaan murid-murid tersebut. Serta, seorang guru harus mempunyai mental yang luar biasa ketika mereka harus mengakui ‘belum bisa menjawab’ pertanyaan tersebut. Oh ... guru ... alangkah ....”

“Sepertinya kau mulai berpikir keras ya, hahahaha .... BTW, pekan lalu aku bertandang ke Gramedia, aku menemukan sebuah buku yang berjudul ‘The BOOK of QUESTIONS’, karya dari Lala Bohang. Kau tahu apa isi buku tersebut?”

“Apa? Sepertinya menarik ....”

“Isinya dari awal hingga akhir adalah pertanyaan, tanpa ada jawaban. Oh ... betapa pentingnya buku ini hingga bisa diterbitkan. Dari buku tersebut pun kita juga bisa menarik kesimpulan ....”

“Hahahaha ... ah sudahlah. Pertanyaan terakhir, apakah kau sedang bernapas sekarang?”

“Hmmm ... RETORIS sekali ....”


Aku bergeming setelah bermonolog ria bakda membaca tulisan dari Yuhesti Mora yang berjudul Dear Adik-adikku Bertanyalah. Tulisan ini telah didiskusikan pada Minggu, 27 Januari 2019, pukul 16.00, di Taman Olahraga Silampari. Materi diskusi pada saat itu pun berhasil memantik anggota Lingkaran Klab Buku yang datang (saat itu ada lima orang yang berkesempatan hadir). Alhasil, pertanyaan dan tanggapan pun bertebaran selama diskusi tersebut.

Comments

Popular

Bukit Sulap dan Hikayat Putri yang Hilang

MAU HIDUP ABADI? MENJADI NARABLOG JAWABANNYA!

Nusantara Berkisah dengan Sejuta Arti Hidup #sayabelajarhidup