Menjadi Pemenang Tak Hanya Sebatas Kebahagiaan dan Prestasi, Tapi Lebih Dari Itu!


Saya telah gagal lebih dari 9000 shot (tembakan) dalam karier saya. Saya telah gagal hampir 300 pertandingan. 26 kali saya telah dipercaya untuk mengambil kesempatan untuk mendapatkan kemenangan namun saya gagal. Saya telah berulang kali mengalami kegagalan dalam hidup saya. Dan itulah mengapa saya berhasil. – Michael Jordan.

Pernyataan dari Michael Jordan di atas mengisyaratkan kita bahwa tak ada kata berhasil jika tak ada yang gagal. Namun, gagal bukanlah satu hal yang remah-remah di antara pemenang. Jangan pula malah (me)rentan hati. Gagal adalah proses. Proses menuju keberhasilan.

Pagi, 23 Desember 2018, langit biru bersih, sebiru seragam para peserta Bennyinstitute Acting Class dan Bennyinstitute Writing Class periode ketiga. Panitia dan peserta mengenakan seragam yang sama ini sudah siap menyambut kemeriahan Parade Pertunjukan Improvisasi Akting dan Cerita Tentang Ibu di Gedung Teater Kecil Lubuklinggau. Kegiatan lomba ini merupakan salah satu agenda dalam bennyinstitute class.



Agenda lomba sejenis ini sudah sepatutnya diadakan dalam suatu kelas. Mengapa demikian? Salah satu tujuan lomba/kompetisi adalah tak hanya sebatas mencari juara dan pemenang. Kegiatan tersebut, dapat menjadi indikator dalam mengukur kemampuan atau level diri. Sebatas manakah kemampuan atau level kita di ranah luar? Melalui kegiatan tersebut pun kita akan bisa berproses menjadi lebih baik lagi. Sekalipun kita menang dalam kompetisi tersebut, maka tak sepatutnya kita terlalu berlarut dalam kebanggaan. Kemenangan merupakan tantangan agar bisa naik level.



Pernyataan di atas, harusnya dapat menjadi landasan bagi peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Selama kelas yang telah berlangsung lebih dari 5 minggu ini, sepatutnya mereka berproses. Mengetahui dan mengukur sudah sebatas manakah yang mereka dapatkan dari kelas tersebut. Kegiatan ini merupakan wadah yang tepat bagi mereka. Hal tersebut terlihat dari respon peserta dalam mengikuti kegiatan ini. Semua peserta telah menyiapkan diri dan juga hal-hal pendukung untuk lomba ini. Mulai dari properti yang akan mereka gunakan dan juga aransemen musik (bagi peserta kelas akting); laptop dan charger (bagi peserta kelas menulis).

Kegiatan lomba ini berlangsung beriringan, kelas menulis memulainya terlebih dahulu, selagi peserta kelas akting mempersiapkan diri. Peserta kelas menulis menumpahkan karya mereka melalui media laptop yang telah mereka bawa. Waktu yang diberikan hanya satu jam. Saya rasa, mereka benar-benar dipecut pada kegiatan ini. Kemampuan mereka benar-benar diuji, hanya dalam waktu yang singkat, mereka harus memikirkan ide (karena genre tulisan diumukan sesaat sebelum kegiatan menulis dimulai), membuat tulisan, mengedit tulisan, hingga meng-upload-nya ke website bennyinstitute. Ditambah lagi, tak lama selang mereka menulis, hiruk pikuk keramaian peserta kelas akting membuncah. Alunan musik, teriakan peserta saat tampil, monolog santai, serta improvisasi akting yang mereka lakoni di atas panggung. Dalam kata lain, lomba kelas akting juga telah dimulai. Suasana yang meriah dan heboh!



Jika saya di posisi peserta kelas menulis, belum tentu saya dapat menghasilkan karya dengan maksimal. Karena sejatinya, ketika proses menulis saya terbiasa dengan suasana hening dan tenang (setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menyamankan diri). Oleh karena itu, panitia pun membebaskan peserta menulis memilih tempat dan posisi sesuai tingkat kenyamanan mereka agar dapar menghasilkan karya yang maksimal. Sebagian peserta memilih duduk di lantai (lesehan), sambil bersandar pada dinding ruangan. Hari itu mereka terlihat sangat luar biasa.



Bagi peserta kelas menulis yang telah menyelesaikan karyanya, mereka harus bergegas meng-upload karya mereka ke website bennyinstitute dengan menggunakan akun mereka masing-masing. Lomba sejenis ini baru pertama kali saya temukan dan terlihat sangat luar biasa. Tak lama setelah meng-upload tulisan, mereka diwajibkan memberi-tahu pada panitia (fasilitator) agar karya mereka langsung bisa diterbitkan. Setelah terbit di website, para juri dengan sigap menilai karya tulisan mereka (membaca tulisan) menggunakan handphone pribadi mereka masing-masing.

Terlihat kontras antara peserta menulis dan akting. Para peserta menulis telah tenggelam dalam tulisannya di depan laptop masing-masing. Bergeming, hanya jari dan bola mata yang terlihat bergerak. Lain halnya dengan peserta akting yang sibuk menyiapkan diri dan juga heboh ketika menyaksikan temannya saat tampil. Saya benar-benar terperangah melihat totalitas peserta kelas akting dalam berimprovisasi di atas panggung. Mereka benar-benar percaya diri. Ah, sepertinya mereka sudah diajarkan untuk memutuskan urat malu mereka. Sungguh, hari itu saya disuguhkan dengan penampilan yang tidak biasa oleh orang-orang yang luar biasa.



Para peserta telah memberikan dan menghasilkan karya yang luar biasa (baik kelas akting maupun menulis). Hal ini tergambar dari kebingungan para juri saat menentukan pemenang dalam lomba ini. Alhasil, para juri menambahkan kategori pemenang: harapan 1, 2, dan 3. Ya, semulanya hanya diambil tiga kategori pemenang. Hahaha, kali ini peserta benar-benar berhasil membuat juri terjerembab dalam kebingungan dan beradu argumen dalam menentukan pemenang. Hingga didapatlah keputusan di atas.



Setelah juri mengumumkan pemenang setiap lomba, peserta sangat heboh. Para pemenang pun terlihat sangat gembira. Hal itu sangat nampak pada muka semringah para pemenang. Apalagi saat pemenang dipanggil naik ke atas panggung untuk penyerahan hadiah dan sertifikat. Momen yang mengharu-biru. Nah, bagi yang belum menang, jangan berkecil hati! Melalui kegiatan ini, kalian dapat mengukur sebatas mana kemampuan kalian. Terus tingkatkan level dan kualitas karya kalian. Tentunya, jangan pernah berhenti berkarya!





Pernyataan puas dan bangga pun tergambar dari Mega Suhartini sebagai pemenang pertama lomba akting, “event ini merupakan event yang keren banget. Karena di sini kita bisa melihat kemampuan kita masing-masing. Di sini kita juga bisa berekspresi dengan kemampuan yg kita punya.”



Sama halnya yang diungkapkan oleh Ratih Andri sebagai pemenang pertama lomba menulis, “event ini bukan hanya dijadikan ajang lomba saja. Tetapi dalam event pun mendapatkan banyak pengalaman dimana di antara harus menulis karya dalam waktu singkat dengan tema yang baru diketahui sebelum lomba, hal tersebut membuat kami sebagai peserta harus berpikir cepat dan cermat. Dan juga merasakan hal berbeda karena harus menulis dalam 1 ruangan ada pementasan ekting juga. Pokok nya, event ini sangat berkesan lah, dengan juri nya yang hebat juga kan.”



Kegiatan sejenis ini sangat-lah penting diadakan dalam suatu kelas. Hal tersebut juga dapat membangun persaingan sehat antar peserta didik agar dapat menjadi lebih baik dan selalu dapat meningkatkan kualitas diri mereka dalam proses belajar. Pastinya, kita sepatutnya jangan cepat merasa puas diri dan cukup dalam menimba ilmu. Karena sejatinya ilmu di dunia ini tak-ber-batas.


Baca juga:
Benarkah Hari Ibu Hanya Ada Satu Hari Dalam Setahun???
DARI PANGGUNG PARADE BENNYINSTITUTE
“Ibu, Panggung, & Cerita”, Peserta BWC Dan BAC Angkatan Ke-3 Kembali ‘Unjuk Karya’!

Popular

13 Jenis Headline yang Mematikan dalam Copywriting

Asiknya Mandi di Air Terjun Sando, Lubuklinggau, Sumatera Selatan

Berimajinasi Bersama Novel Anti-Mainstream: Curriculum Vitae