Hampir Habis. Habiskan Saja! Hingga Hilang!

"Berhentilah melakukan hal yang tidak penting!"

"Apa maksudmu? Apakah kau kira semua yang aku lakukan adalah hal yang tidak penting?"

"Bukan begitu... Lihatlah... Dari sekian lama, apa yang telah kau hasilkan? Ada?"

"Jadi maksudmu... Semua yang aku lakukan selama ini tidak menghasilkan sesuatu?"

"Menurutmu?"

"Jadi apa maksudmu?"

"Coba kau pikirkan! Kau lihat lagi! Seberapa banyak hal yang telah kau mulai?! Adakah semuanya ter-selesai-kan?!"

"Lantas?"

"Cobalah berpikir... Selesaikan satu-satu! Jika kau tak melakukan hal yang tak penting, harusnya semua yang telah kau mulai pun sudah kau selesaikan! Benar kan?!"

"Apa pedulimu?"

"Tak perlu berkelit! Berhentilah sok naif! Aku rasa kau pun telah menyadarinya!"

"Aku hanya bosan?"

"Bosan? Apa maksudmu dengan kata bosan? Kau mengatakan bosan di tengah keramaian? Kau merasakan bosan di tengah kesibukanmu yang tidak penting itu? Kau serius?"

"Apa salahnya jika aku hanya bosan? Apakah itu dosa besar?"

"Bukan begitu... Harusnya kau berkaca menggunakan spion! Sudah berapa lama kau bernapas? Sekarang tahun pun sudah hampir meninggalkan kita?! Dan kau juga tak sadarkan diri?!"

"Jadi maksudmu... Aku harus melakukan apa?"

"Berhentilah bertindak sok bodoh! Aku pikir kau pun tak se-bodoh yang ku-kira! Kau hanya sedang tersesat!"

"Pernyataan apa lagi yang kau buat? Tersesat?! Kau kira aku sedang di mana?"

"Kau pun masih tak sadar?! Kau TERSESAT! Coba kau periksa lagi, apakah masih ada peta di sakumu? Apakah petanya masih ada? Apakah petanya masih sering kau buka?"

"Dari mana kau tahu letak petaku?"

"Hahahaha, kau masih belum sadar? Kau tak ingat? Kau tak ingat tentang semua hal yang telah kau ceritakan padaku? Kau tak ingat dengan semua janji pada dirimu sendiri? Kau tak ingat dengan tekad yang telah kau-bulatkan, kau-garis-bawahi, kau-tebal-kan! Kau tak ingat itu? Se-luar-biasa-kah itu dirimu?!"

"Kau membuatku bingung! Apa maumu?"

"Sadarlah! Jadilah lebih waras! Jika ingin gila, jangan tanggung-tanggung! Jadilah sangat gila!"

"Cukup! Sudah cukup! kau telah menuduhkan berlebihan! Tahu apa kau tentang aku?!"

"Kau bodoh! Kau tersesat! Kau kehilangan arah! Waktu pun hampir habis! Berhentilah sok NAIF! Berhentilah munafik! Sadarlah...."

"Diam...!!! Bedebah..."

Pria lawan bicaranya tersenyum penuh sindir, kemudian menghilang, pergi, lenyap, karena cerminnya telah hancur. Seketika tangan pria itu berdarah karena menghantam cermin dengan tinjunya. Pria itu terdiam. Tinjunya bersimbah darah. Tahun 'kan berganti dalam hitungan jam. Pria itu masih bergeming ditemani serpihan cermin yang jatuh di sekitar kakinya.

Entah... Apakah pria itu akan membuka kembali peta yang telah ia buat sebelumnya? 

Who knows?!

Comments

Popular

Hujan Turun dari Bawah: Puisi yang Hidup nan Berwarna

Bukit Sulap dan Hikayat Putri yang Hilang

AKU (TAK) MEMILIH

Asiknya Mandi di Air Terjun Sando, Lubuklinggau, Sumatera Selatan