Keren! Dewa Asli Sumatera Selatan Ini Hilang Di Negeri China

Tahukah kamu kalau Indonesia ternyata punya dewa juga loh?! Tak tanggung-tanggung dewa ini pun menguasai banyak elemen. Wah, sudah kayak cerita avatar aja ya.

Referensi pihak ketiga
Dewa yang ini berasal dari hikayat Sumatera Selatan. Tepatnya hikayat asli Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
Penasaran? Begini ceritanya:

Referensi pihak ketiga
Kisah yang bermula dari sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang dewa sakti yang bernama Raja Biku. Sebagai seorang penguasa kerajaan di Negeri Ulak Lebar (sekarang merupakan nama daerah di kaki Bukit Sulap, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan), tentu memiliki keistimewaan yang layak disegani siapa pun. Raja Biku mempunyai kesaktian yang dimiliki oleh para dewa; kesaktian Dewa Matahari, Dewa Bulan, Dewa Laut, Dewa Angin, Dewa Halilintar, Dewa Bumi, Dewa Gunung, dan Dewa Api. Kesaktian yang kemudian menghantarkan gelar “Delapan Dewa” ke dadanya.
Berkat kesaktiannya ini menjadikan hubungan kerajaan Ulak Lebar dengan negeri-negeri sekitarnya terjalin baik, yang meluas hingga ke Pagarruyung, Negeri Melayu, Bengkulu, bahkan sampai ke Negeri China.

Referensi pihak ketiga
Awal permasalahan:
Tapi terdapat masalah dalam diri Raja Biku. Selama sepuluh tahun sejak ia menyunting permaisurinya, namun belum juga ia dikaruniai keturunan oleh Yang Maha Kuasa. Sudah tak terhitung banyaknya cara yang dilakukan oleh Raja Biku dan istrinya.
Kemudian, istrinya, Putri Ayu Selendang Kuning memintanya untuk menghadap dewa yang bersemayam di Bukit Alas Rimba. Dewa tersebut adalah kakak iparnya, Dewa Mantra Guru Sakti Tujuh. Raja Biku diberi sekuntum kembang tanjung yang berasal dari kayangan dan sebuah perintah yang harus ia patuhi. Dengan mematuhi apa-apa yang diamanatkan dewa, maka akan lahir anak-anaknya yang berjumlah sama dengan kelopak kembang tersebut.
Kini, Raja Biku bersamana istrinya Putri Ayu Selendang Kuning telah memperoleh enam orang anak berkat mukjizat dari kembang tanjung tersebut. Mereka adalah Sebudur, Dayang Torek, Dayang Teruju, Dayang Jeruju, Dayang Ayu, dan Dayang Ireng Manis.
Puncak permasalahan:
Setelah sekian lama, putra mahkota Kerajaan Ulak Lebar belum juga beristri. Sudah berkali-kali ibunya meminta agar Sebudur segera memilih gadis yang ia sukai untuk dijadikan istri, namun nasihat itu selalu ditolaknya.
Kemudian, pada hari yang telah ditentukan, di ruang musyawarah keluarga istana Negeri Ulak Lebar, setiap keluarga kerajaan dan perangkat pemerintahan berkumpul. Mula-mula, raja menyampaikan tentang keadaan dirinya saat ini yang sudah tua dan dewasa. Setelah itu, Raja Biku menanyakan sikap Sebudur tentang rencana raja yang akan menyerahkan tahta kerajaan kepadanya sekaligus meminta agar putranya itu bersegera memilih istri. Tetapi, nyatanya pendirian Sebudur masihlah sekokoh sebelumnya. Ia belum berminat untuk menggantikan ayahnya menjadi raja di Ulak Lebar dan belum pula ada kemauan untuk beristri. Tentang adik-adiknya, ia mengizinkan mereka bersuami bila sudah ada lelaki yang berniat meminang mereka. Ia tidak berkeberatan dilangkahi oleh adik-adiknya.
Raja Biku mempunyai rencana lain.
Pada suatu hari Raja Biku akan berangkat ke Negeri China untuk mambeli barang-barang keperluan rumah tangga kerajaan. Selain dirinya, tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang sesungguhnya diinginkan sang raja atas kepergiannya yang terkesan tiba-tiba tersebut.
Kepergian Raja Biku tersebut merupakan awal mula kisah hampir runtuhnya kerajaan Ulak Lebar.
Ternyata kepergian Raja Biku ke Negeri China adalah sebuah tulisan takdir, Raja Biku Hilang di Laut China. Ia berasal dari sana dan sesuai janjinya kepada Dewa Mantra Guru Sakti Tujuh, suatu saat di masa depan ia akan kembali ke tempat asalnya. Seorang raja yang sakti mandraguna bergelar Delapan Dewa itu telah memenuhi janjinya: hilang di Laut China.
Setelah kejadian kembalinya Raja Biku ke asalnya, kisah hilangnya keluarga kerajaan ini pun ikut berlanjut diikuti oleh: Dayang Torek yang hilang di Bukit Rimbo Tenang, Dayang Jeruju di Bungin Lebar Danau Rejang, Dayang Ayu di Bukit Dayang Ayu, hingga Putri Ayu Selendang Kuning, Dayang Ireng Manis, dan diikuti Sebudur juga hilang di Ulak Lebar. Tak ada perbedaan di mana mereka hilang, karena pada hakikatnya, mereka semua kembali ke asalnya di kayangan.

Referensi pihak ketiga
Sumber dari buku Silampari, Hikayat Putri yang Hilang, oleh Suwandi Syam, 2015.

Popular

LOMBA MENULIS CERITA PENDEK HARI PAHLAWAN PRESENT by BELIGAT UPDATE.COM & JOLORO 72 STORE

Asiknya Mandi di Air Terjun Sando, Lubuklinggau, Sumatera Selatan

Lidah Mertua: Kumpulan Puisi yang Sangat Menggugah Hati

Kamu Adalah Pemenang Jika Berhasil Menghatamkan Sang Pemenang Berdiri Sendiri (Review Novel Karya Paulo Coelho)

13 Jenis Headline yang Mematikan dalam Copywriting