Meraih Mimpi Itu Wajib Hukumnya: Jiwa Buana (Sang Alkemis)

Hallo Kawan,
Selamat Malam Indonesia yang lagi Musim Hujan.

Aku baru saja menyelesaikan Novel Fiksi, The Alchemist (Sang Alkemis), karya Paulo Coelho. Novel yang pertama kali diterbitkan di Brasil pada tahun 1988 ini merupakan novel international bestseller dan telah diterjemahkan ke beberapa bahasa. Sebenarnya aku termasuk orang yang telat dalam mengenal karya novel yang luar biasa ini. Tapi, tak apalah setidaknya aku pernah tahu dan menghatamkan buku tersebut.

Isi buku ini terlanjur sangat bagus dan menggugah, kalimat-kalimat yang digunakan sungguh bernas, penuh pesan, dan kata-katanya sungguh indah. Karena itu, aku mencoba melahap isi buku ini dengan penuh perasaan; tidak terburu-buru; tidak ingin rasanya terlalu cepat melahap semua isi buku dengan cepat; ingin rasanya menikmati setiap kata per kata; sungguh indah. Alhasil, aku menghatamkan Sang Alkemis ini dalam waktu dua minggu.

Aku menemukan maha karya Paulo Coelho ini ketika sedang mencari inspirasi bahan tulisan mengenai mimpi. Aku rekomendasikan buku ini buat Kawan yang sedang mencari jati diri atau sedang mengejar mimpi atau cita-cita. Pada buku ini menceritakan seorang bocah yang sangat optimis meraih mimpinya: Jiwa Buana. Yang terpenting dari cerita meraih mimpi ini adalah proses dalam meraihnya. Si bocah banyak belajar dari setiap makhluk yang dia temui; dia tak pernah berhenti belajar; dia terlanjur yakin dengan mimpinya; dia selalu optimis dalam meraih mimpinya. Hingga akhirnya dia mendapatkan mimpinya dan menemukan cinta sejatinya, Fatima.

Dari semua kisah cerita atau novel, menurutku, ending bukanlah hal yang terlalu penting untuk diresapi, tapi proses menuju ending-lah yang yang sangat penting: serat makna. Termasuklah Novel Sang Alkemis ini.

Selama membaca novel ini, aku sempat meng-copy beberapa kalimat yang menurutku bagus untuk dibagikan. Ini beberapa kalimat apik itu, Kawan:

"Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangisi karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri." Danau berkata.

"Begini: bahwa pada saat tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita dikendalikan oleh nasib. Itulah dusta besar di dunia." kata si orang tua.
"... 'Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia, dan tak pernah melupakan tetesan minyak di sendok.'" tutur raja tua.

“Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?” tanya si bocah, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu.

“Sebab, dimana hatimu berada, di situlah hartamu berada.”

"... Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup." kata pemilik toko kristal.

"Karena orang tidak hidup di masa lalu ataupun masa depan. Aku hanya tertarik pada masa kini. Bila kau dapat selalu konsentrasi dengan masa kini, kau akan menjadi orang yang bahagia. Kau akan tahu ada kehidupan di gurun, bahwa ada bintang-bintang di langit, dan bahwa pertempuran suku ini karena mereka bagian dari ras manusia. Hidup ini akan menjadi pesta bagimu, suatu festival besar, karena kehidupan adalah momen kita hidup saat ini." kata si penunggang onta.

"Seseorang dicintai karena ia dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai." kata Fatima
"... Hanya ada satu hal yang membuat mimpi tak mungkin diraih: perasaan takut gagal." kata si alkemis.

Ending novel >>>
'Si bocah berdiri dengan gemetar, dan melihat sekali lagi pada piramida. Mereka kelihatannya menertawai dia, dan dia balik menertawai, hatinya dipenuhi kegembiraan.'

Selamat menikmati novelnya Kawan.

Bagi yang ingin membaca ebook-nya, boleh langsung email ke yandikajuli@gmail.com , nanti akan dikirimkan eksklusif buat kamu. Terima kasih.

Popular

13 Jenis Headline yang Mematikan dalam Copywriting

Asiknya Mandi di Air Terjun Sando, Lubuklinggau, Sumatera Selatan

Bujang Gadis Bule Pakle - Perfect Strangers

Baper Tingkat Dewa! Percakapan Kocak Bikin Ngakak Orang Lagi Baperan