Meong

Ibu,
Kau sungguh berarti bagiku,
Kau tahu umurku baru beberapa minggu,
Kau tahu, hanya aku yang tersisa dari saudaraku.

Ibu,
kini kau hidup bagai sembilu,
anak-anakmu dulu kadang mengeong malu,
dan kadang mengeong sendu, mampus menunggumu,

Meong, Ibu,
kau tahu aku,
aku adalah anakmu,
bukan anak Burung Puyuh.

Ibu aku masih membutuhkanmu,
air susumu nyawa bagiku,
aku tak tahu ikan, yang ku tahu susu,
aku tak mau susu sapi, aku mau susu ibu.

Ibu mungkin aku tahu sedikit perasaanmu,
kau hidup selalu diburu,
kau keluarkan aku dari perutmu,
kemudian jantan lain kembali memburu.

Ibu, Meong,
walau aku tahu, aku harus kuat,
kadang bertarung melawan kawat,
kadang juga melawan kakak yang sok kuat.

Meong,
ibu hari mu kadang diselimuti pilu,
ini itu, kadang malah anakmu,
ingin menanam benih dalam perutmu.

Meong,
suatu hari itu,
sang jantan kembali memburu,
aku hanya bisa membisu takut diburu,

Meong…
Suara itu tak bisa aku keluarkan,
Aku sudah gemetaran,
Aku kelaparan,
sudah tiga hari aku tak makan,
Ibu kau tahu aku tak bisa makan apa-apa selain susumu,
Umurku belum genap setahun, baru beberapa minggu,
Ibu aku tahu, kau pun pilu, sedang tak mau diburu, karena aku baru keluar dari perutmu,
Tapi ibu, kau tlah tahu, aku takut dan tak bisa minum susumu, karena jantan lakhnat itu,
Ibu, aku pun tahu, aku akan mati bukan karena diburu, karena aku tak dapat air susumu,

Ibu, kini aku telah kaku,
Dan ibu, aku telah mati membeku,
dingin karena hujan malam itu,
Ibu inilah aku, maut telah menjemputku.

Popular

13 Jenis Headline yang Mematikan dalam Copywriting

Asiknya Mandi di Air Terjun Sando, Lubuklinggau, Sumatera Selatan

MAU HIDUP ABADI? MENJADI NARABLOG JAWABANNYA!

Bukit Sulap dan Hikayat Putri yang Hilang

Berimajinasi Bersama Novel Anti-Mainstream: Curriculum Vitae