LAH IYA ADA

Ketika warna hitam tak lagi pekat, pekat paling terdalam,
seandainya hitam tetaplah hitam, selalu terlelap dalam lembah kelam.

Kini putih bercampur hitam menjadi abu, abu jatuh hanyut menyebrang,
abu melintasi nil, dan menembus nirwana garang.

Biru mulai berbisik pada langit dan laut juga salju serta danau malu,
namun biru kadang membenci malam, malam hitam pilu.

Biru dan hitam seakan tak mau bersatu,
mereka pernah berbisik menyentuh qalbu dengan membelai lembut nan syahdu.

Pernah juga merah kuning hijau singgah tapi malu,
bersama putih yang menggumpal gendut dan terlihat semanis madu.

Seketika jingga hadir memberikan arti menjelang mimpi menerjang sanubari,
jingga tak pernah iri pun dengki, tak mencibir pun mencaci, jingga lambang tinggi harga diri.


Itu serdadu nun jauh maju mundur malu, membisu pun batu, mau itu tapi ragu,
ini sari tak berarti, menari dan bernyanyi seksi, mendesir ke ulu hati,
lah nada ucap iya ada, membelah dada, cahaya jiwa merona sang kuasa.

Comments

Popular

Hujan Turun dari Bawah: Puisi yang Hidup nan Berwarna

Bukit Sulap dan Hikayat Putri yang Hilang

AKU (TAK) MEMILIH

Bujang Gadis Bule Pakle - Perfect Strangers